Bem Filkom

Pengalaman Organisasi Penentu Kesuksesan

08-Okt-2017 Kastrat Sospolpedia

Oleh : Masagus Hariadi Arief
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya

 

Jika ditanya lebih penting mana antara organisasi dan kuliah, tentu saya akan menjawab bahwa kedua-duanya penting. Jelas kuliah sangatlah penting, namun kuliah tidaklah cukup bila kita ingin menjadikannya sebagai bekal dalam bertarung dalam kehidupan yang sebenarnya, yaitu kehidupan pasca kuliah. Apalagi kalau kita hanya berharap banyak kepada sebuah angka yang tertera pada indeks prestasi kumulatif (IPK). Sebagai mana yang di katakan Anies Baswedan, “Bahwa IPK yang tinggi, tidak mengantarkan seseorang ke jenjang karier tertinggi, karena IPK tinggi hanya mengantarkan pada meja wawancara”. Jadi dapat kita simpulkan bahwa bekal yang kita peroleh dari kegiatan belajar mengajar pada saat perkuliahan hanya mampu membawa kita ke medan perang saja, namun belum mampu untuk menyediakan amunisi perang yang ampuh dan mampu untuk memerangi serta mengalahkan musuh-musuh dalam persaingan di kehidupan pasca kuliah. Lalu pertanyaannya amunisi seperti apa yang kita butuhkan guna menghadapi persaingan di kehidupan pasca perkuliahan. Amunisi yang saya maksud ialah soft skill, karena banyak sekali tuntutan soft skill yang harus dikuasi sebagai syarat untuk melamar pekerjaan disuatu organisasi atau perusahaan. Belum lagi kalau kita ingin membuka lapangan pekerjaan atau dengan kata lain memperkerjakan orang lain. Tentu saja sangat banyak sekali tuntutan soft skill yang harus dikuasai guna memanajemen orang-orang yang akan kita pekerjakan tersebut.

Namun sayang bangku perkuliahan tak mengakomodasi mahasiswanya untuk menggali serta mengeksplorasi soft skill-nya. Belum lagi ditambah oleh sistem kurikulum yang justru membatasi mahasiswa dalam proses belajar dan berpikir. Maka dari itu organisasi muncul sebagai wadah untuk mengeksplorasi soft skill bahkan jaringan. Sebagai contoh seorang mahasiswa yang aktif berorganisasi secara tidak langsung ia akan berkembang dalam komunikasinya, ia berkembang melalui forum diskusi atau bahkan pelatihan sehingga membuat ia terlatih untuk berbicara di ruang publik. Atau dalam kasus yang lain seorang organisatoris juga secara tidak langsung akan terlatih untuk memanajemen orang lain atau bahkan memberikan pengaruh kepada orang lain karena pada saat ia berorganisasi ia telah terbiasa melakukan hal tersebut pada saat kegiatan-kegiatan di organisasinya. Dan tentunya kemampuan-kemampuan tersebut sangat dibutuhkan di dunia pekerjaan.

Dan yang perlu dipahami dalam berproses untuk mengeksplorasi soft skill di organisasi tidak dapat diraih secara instan, serta tidak mampu kita ukur secara formal. Lamanya berproses dalam organisasi tentu menjadi salah satu tolak ukur keoptimalan hasil yang kita raih dari berorganisasi. Makin lama dan dalam kita terlibat dalam organisasi maka makin banyak juga manfaat-manfaat yang mampu kita raih dalam berproses di organisasi tersebut. Tentu dalam berproses kita juga harus bekerja secara tuntas, cerdas dan ikhlas, sehingga kita harus meluangkan waktu, tenaga, pikiran bahkan tak jarang materi.

Mahasiswa yang juga sebagai seorang remaja yang belum menemukan jati dirinya, organisasi juga berperan sebagai wadah untuk pendewasaan diri. Karena tak jarang kita akan dihadapkan dengan setumpuk permasalahan yang harus kita selesaikan,  tak jarang bila ada mahasiswa organisatoris  sampai-sampai mencuri waktu-waktu kuliah demi menyelesaikan setumpuk permasalahan organisasi tersebut. Maka dari itu manajemen waktu sangat dibutuhkan agar semua tugas baik organisasi maupun kuliah dapat terselesaikan, walaupun dengan cara mengurangi jam tidur. Namun bagi saya segala kesulitan dan kendala tersebut adalah suatu kenikmatan dalam berorganisasi yang mampu mengawal dan membimbing kita dalam pendewasaan diri. Dan yang paling utama diorganisasi kita akan bertemu dengan banyak orang-orang baru, yang biasa saya sebut keluarga dalam berorganisasi. Karena tak jarang merekalah yang menjadi sumber bantuan dalam menyelesaikan tumpukan-tumpukan permasalahan yang ada, baik itu permasalahan di organisasi maupun bukan, atau bahkan permasalahan perkuliahan. Dan tidak menutup kemungkinan keluarga dalam organisasi tersebut jugalah yang akan menjadi jembatan-jembatan yang kita lalui dalam menggapai kesuksesan dalam bermasyarakat bahkan di dunia kerja.  Maka berusahalah untuk bergabung dengan organisasi yang ada di kampus baik itu organisasi intra ataupun ekstra. Karena semua itu akan berguna untuk kelangsungan perkuliahan kita bahkan akan sangat membantu dalam bermasyarakat dan juga dalam pekerjaan.

–Oo oO—

Catatan Najwa Untuk Mahasiswa

“jika idealisme adalah kemewahan yang dimiliki pemuda akan diisi dengan apa periode kalian sebagai mahasiswa, belajar adalah bentuk dasar yang tak boleh diabaikan namun merugilah jika belajar disempitkan semata dengan perkuliahan, nikmati kehidupan kampus dengan terus mengasah, jangan habiskan waktu dengan terus berkeluh kesah, karena kalian adalah anak-anak muda pilihan yang berkesempatan merengkuh dalamnya ilmu pengetahuan, bacalah sebanyak-banyaknya buku jangan main gadget melulu, kongkow-kongkow tentu boleh-boleh saja apalagi jika di Sekretariat organ Mahasiswa, Kenali sebaik-baiknya Temanmu, Hayatilah Masyarakat di Sekelilingmu, agar kampus tak menjelma tembok yang memenjarakanmu, Beranilah mengambil Pendirian dalam banyak persoalan, Anak muda kok sudah hobby cari aman dengan sikap Netral-Netral, Tinjulah Kemapanan dengan Kepalan Tangan, Lawanlah kejumudan dengan nekat membuat terobosan, jangan takut jatuh dan terhantup dengan terbentur kamu akan terbentuk, Sebab indonesia ditemukan dan diusahakan oleh anak-anak muda, kalian pula lah yang seharusnya mempebaharui tanah air kita”.

– Najwa Shihab-

 

Spread the love

One Reply to “Pengalaman Organisasi Penentu Kesuksesan”

Tinggalkan Balasan